Serba-Serbi Terkini

Diambil dari Laut Islandia, Nasib Paus Ini Berakhir Tragis di SeaWorld

Written by Binsar Marulitua

Kesiniaja.com – Sorotan tawa gembira bersama riuhnya tepuk tangan berganti menjadi kabar duka cita di SeaWorld Orlando, Florida, Amerika. Tilikum, nama yang diberikan untuk paus pembunuh (Orcinus orca) ini, dikabarkan mati setelah menyelami 36 tahun masa hidupnya pada Jumat, (6/1). Penyebab kematian mamalia purba ini adalah akibat infeksi bakteri yang bertahun-tahun tak kunjung sembuh ditangani petugas pengobatan setempat.

“Tilikum benar-benar seperti tidak berkualitas hidupnya. Kebebasannya seperti dirampas dari normalnya berada di alam liar. Ia juga dipisahkan dari keluarganya dan dipaksa masuk ke dalam bisnis hiburan laba, itu menyedihkan,” kata Pendiri Dolphin Project seperti dikutip kantor berita AP.

Tilikum yang berarti teman, memang bisa menghindar dari pembantaian perburuan. Akan tetapi, nasib sialnya juga tak lantas berbeda ketika ditangkap untuk mengisi properti akuarium raksasa ambisi manusia. Mamalia laut ini diambil secara paksa di lepas pantai Berufjörður, Islandia pada tanggal 9 November 1983. Sejak saat itu hidupnya berubah untuk selamanya.

Kombinasi stres, intimidasi, perampasan sensorik, dan penahanan secara kasar menjadikan perubahan naluri bertahan hidupnya berubah. Ia dikabarkan membunuh dua sahabatnya yang berada dalam satu kolam pada tahun 1990. Tidak hanya itu, catatan masa kelamnya dalam bui akuarium juga ditandai dengan membunuh satu orang pelatih dan satu orang pemberi makan bernama Keltie Byrne dan Daniel Dukes di waktu yang berbeda.

Puncaknya rasa frustasi Tililkum terjadi pada tahun 2010, ketika ia kembali membunuh pelatihnya yang bernama Dawn Brancheau dalam pertunjukan yang disaksikan banyak orang dewasa dan anak-anak kecil. Setelah terlibat dalam tiga kematian Tilikum di pisahkan dalam tanki kecil. Sebenarnya, kondisi Tilikum sempat stabil kembali dan memasuki arena panggung. Bahkan, Tilikum sempat menjadi cerita utama pada film dokumenter “Blackfish” . Akan tetapi, Ia berkali-kali jatuh sakit, dan harus menyerahkan penyakitnya menemui takdir.

Aktivus Sea Shepherd tengah menghadang kapal pemburu paus, Nisshin Maru di laut Antartika. Daging paus menjadi bahan kuliner yang sangat favorit di Jepang.

Kematian Tilikum membuat rasa empati yang dalam dari para pemerhati lingkungan.  Tak terkecuali pihak konservatif garis keras yang melindungi ekplorasi laut, Sea Shepherd. Paul Watson sang ketua mengingatkan  kampanye tentang perlawanan terhadap korporasi yang mengekploitasi kebebasan satwa di perairan lepas terlebih sangat menentang SeaWorld. Ia mengatakan kehidupan manusia akan berakhir jika laut telah mati.

“Tilikum adalah simbol bagi saya. Hidupnya adalah mikrokosmos dari apa yang sebenarnya membunuh planet ini, keserakahan korporasi. Jangan pernah pergi ke SeaWorld,” ucapnya.

Foto featured: istartedsomething

Komentar Anda:
Mau Jalan-Jalan Gratis ke Jogja?
Daftarkan emailmu melalui form dibawah ini untuk informasi lengkapnya.
We respect your privacy

About the author

Binsar Marulitua