Wisata Indonesia

Kembali ke Masa Lalu Bersama Kereta Uap di Museum KA Ambarawa

Written by Nadia Syifa

Kesiniaja.com – Kamu mungkin terbiasa menggunakan kereta api berbahan bakar diesel ataupun berbahan bakar listrik sebagai penggeraknya, namun pernahkah kamu menggunakan kereta api berbahan bakar uap dari kayu bakar?

Kalau penasaran dan ingin mencobanya, sebaiknya kamu harus mengunjungi Museum Kereta Api yang ada di Ambarawa Semarang.  Di musem tersebut, wisatawan dapat menikmati perjalanan menggunakan lokomotif B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG tahun 1902 dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tuntang.

Merasakan menggunakan kereta api uap melewati perkampungan dengan santai akan membuat kamu melupakan sejenak sumpeknya menggunakan KRL seperti yang ada di Jakarta.

Melewati kampung demi kampung serta lembah dan bukit yang hijau akan membawamu serasa berada diawal tahun 90an saat kereta-kereta masih baru ada di Indonesia.

Paket andalan dari Museum KA Ambarawa ini hanya ada di saat weekend dan hanya melaju tiga kali dengan ongkos tiket hanya 50 ribu rupiah untuk pulang pergi, untuk hari lain bisa dilakukan dengan reservasi khusus berbiaya hingga 10 juta rupiah untuk satu kereta dan gerbongnya.

Setelah kamu puas menjajal kereta uap tersebut kemudian bisa berkeliling ke museum yang diresmikan sejak 1967 tersebut. Dulunya, museum tersebut adalah stasiun kereta api aktif dengan nama Stasiun Wilem I kemudian berganti nama menjadi Stasiun Ambarawa.

Di museum tersebut banyak tersimpan beberapa koleksi langka seperti kereta uap bergerigi yang kono, koleksi tersebut hanya tinggal 3 buah di dunia. Selain itu banyak pula koleksi kereta lawasan yang lain seperti Lokomotif B2220 yang dulu merupakan seri NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij) 306 dan berbahan bakar kayu.

Yang lain adalah Lokomotif C1240 atau seri dulu SS (staatsspoorwegen) 400 yang juga berbahan bakar kayu dengan bentuk yang unik yaitu berbentuk persegi atau balok. Koleksi lain yang tidak boleh kamu lewatkan adalah mesin pembuat tiket penumpang yang digunakan sejak tahun 1840 yang dibuat Thomas Edmunson.

Lalu ada pula koleksi mesin hitung yang digunakan Pemerintah Hindia Belanda untuk menghitung keuntungan yang masuk dari hasil penjualan tiket KA, dan tentunya koleksi dokumentasi sejarah kereta api di Indonesia sejak zaman penjajahan.

Jadi kalau ada yang bilang berwisata ke museum adalah hal yang membosankan, maka kamu harus berwisata ke museum yang berjarak sekitar 30 menit dari pusat Kota Semarang Jawa Tengah ini untuk merasakan serunya kembali ke masalalu.

Featured image’s source

Komentar Anda:
Mau Jalan-Jalan Gratis ke Jogja?
Daftarkan emailmu melalui form dibawah ini untuk informasi lengkapnya.
We respect your privacy

About the author

Nadia Syifa

Chasing sunsets around the world : island life