Terkini Wisata Indonesia

Menelusuri Jejak Laksamana Cheng Ho di Semarang

Written by Violet Rani

Kesiniaja.com  – Sosok Laksamana Cheng Ho dikenang warga Semarang, Jawa Tengah sebagai simbol persahabatan antara Indonesia dan China. Perkenalan Cheng Ho dengan penduduk lokal di Semarang terjadi saat laksamana kepercayaan Kaisar Zhu dari China itu singgah di Pantai Simongan, Semarang.

Menurut cerita, saat itu salah seorang jurumudinya yang bernama Wang Jinghong dikenal Dampo Awang jatuh sakit. Demi merawat Wang Jinghong, Sang Laksamana memutuskan tinggal sementara di Semarang. Kebetulan, tak jauh dari Pantai Simongan, terdapat sebuah gua. Di dalam gua itulah Laksamana Cheng Ho dan pasukannya tinggal.

Karena penyakit Wang Jinghong sulit disembuhkan, Sang Laksamana memutuskan melanjutkan perjalanan tanpa jurumudinya. Selepas peninggalan Cheng Ho, gua tersebut tertimbun longsor pada 1704. Sebagai penghormatan terhadap Cheng Ho atau Sam Poo, masyarakat setempat menggali kembali dan ditemukan sebuah altar yang digunakan untuk salat.

Setelah melalui serangkaian renovasi dan perbaikan, altar salat Cheng Ho itu bertransformasi sebagai kelenteng. Kini, jejak Sam Poo tersaji di Kelenteng Gedong Batu atau populer Kelenteng Sam Poo Kong.

Petilasan tempat Cheng Ho semedi masih berdiri tepat di belakang Kelenteng. Gua itu pun menjadi satu bagian penting yang didatangi para peziarah. Di bagian kiri dan kanan gua pun dapat terlihat relief batu yang menceritakan tentang kisah pelayaran Laksamana Cheng Ho yang agung.

Patung raksasa Laksamana Cheng Ho di pelataran Klenteng (Foto: Violet Rani/Kesiniaja.com)

Patung raksasa Laksamana Cheng Ho di pelataran Klenteng (Foto: Violet Rani/Kesiniaja.com)

Namun, ikon kelenteng Sam Poo Kong adalah patung raksasa Laksamana Cheng Ho. Patung setinggi 10,7 meter berbahan perunggu dengan berat sekitar 3,7 ton itu menghiasi kompleks Kelenteng Sam Poo Kong.

Ada lima kuil yang berdiri di kompleks seluas 1.020 meter persegi itu. Kelima kuil itu adalah adalah Tho Tee Kong, Kuil Kyai Juru Mudi, Kuil Kyai Jangkar, Kuil Kyai Cundrik Bumi, dan Mbah Kyai Tumpeng. Di antara kelima kuil tersebut, kuil Sam Poo Kong adalah yang terbesar.

Bangunan klenteng merupakan bangunan tunggal beratap susun. Di bagian tengah terdapat ruang pemujaan Sam Poo. Meski demikian, kelenteng ini tidak memiliki serambi atau balai gerbang yang terpisah. Ini menunjukkan akulturasi budaya Jawa dan China dalam bentuk bangunan fisik kelenteng.

Kini, Kelenteng Sam Poo Kong menjadi pusat kegiatan budaya China-Jawa di Semarang. Berbagai ritual hingga festival diselenggarakan di tempat ini. Salah satunya, ritual memperingati hari ulang tahun Cheng Ho, yang  pawai dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok menuju Klenteng Sam Poo Kong.

 

Komentar Anda:
Mau Jalan-Jalan Gratis ke Jogja?
Daftarkan emailmu melalui form dibawah ini untuk informasi lengkapnya.
We respect your privacy

About the author

Violet Rani