Scroll untuk baca artikel
Shopee Diskon 50%
Jelajah Dunia

Yuk Wisata Religi Dan Belajar Sejarah Dari Blue Mosque di Istanbul

Avatar photo
×

Yuk Wisata Religi Dan Belajar Sejarah Dari Blue Mosque di Istanbul

Share this article
Yuk Wisata Religi Dan Belajar Sejarah Dari Blue Mosque di Istanbul

Masjid Sultan Ahmed adalah sebuah masjid di Istanbul, kota terbesar di Turki dan merupakan ibukota Kesultanan Utsmaniyah ( dari 1453 sampai 1923). Masjid ini dikenal dengan juga dengan nama Masjid Biru karena pada masa lalu interiornya berwarna biru.

Sejenak memandang masjid ini sangat indah dan teduh. Bangunan ini dibangun oleh Sultan Ahmed I berasal dari Dinasti Ottoman yang menguasai Turki pada abad ke-14. Sultan Ahmed I memerintah Turki mulai tahun 1603 – 1617. Konstruksi masjid mulai dibangun pada tahun 1609, oleh arsitek terkenal pada jaman itu, yaitu Mehmed Aga. Pada tahun 1616, masjid ini selesai dibangun.

Promo Kredivo

Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru untuk menandingi bangunan Hagia Sophiabuatan kaisar Byzantine yaitu Constantinople. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru. Hagia Sophia dulunya adalah Gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M .

Kembali ke Masjid Biru yang elok nan rupawan ini, memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dengan tinggi kubah 43 meter, dan kolom beton berdiameter 5 meter. Masjid ini adalah satu dari dua buah masjid di Turki yang mempunyai enam menara, yang satu lagi berada di Adana.

Menurut legenda, Sultan Ahmed I meminta kepada Mehmed Aga untuk membuat menara yang terbuat dari emas. Kata emas dalam bahasa Turki adalah “altin”. Apa mau dikata, sang arsitek salah mendengar. Ia mengira Sultan Ahmed I ingin memiliki masjid dengan 6 menara. Kata enam dalam bahasa Turki bunyinya “alti” dan memang terdengar amat mirip dengan “altin”.

Baca Juga:  Liburan Bersama Ribuan Burung di Jurong Bird Park Singapura

Menurut sejarah, arsitektur masjid-masjid di Turki mengikuti dua gaya, yaitu gaya arsitektur Saljuq dan Turki Utsmani. Adapun Masjid Biru mengikuti gaya arsitektur Turki Utsmani. Sampai saat ini, Masjid Biru tetap digunakan sebagai tempat ibadah. Setiap Jumat atau Idul Fitri dan Idul Adha, masjid ini bisa menampung hingga 10 ribu jemaah.

Pemandangan pertama saat memasuki kompleks masjid ini yaitu taman bunga yang dilindungi pepohonan. Di bagian interior masjid dihiasi dengan 20 ribu kramik dari Iznik, kawasan Turki. Terdapat pula empat pilar besar dari marmer yang menyerupai kaki gajah. Cahaya matahari bisa leluasa menerobos ke dalam masjid lewat 200 jendela kaca patri yang wana-warni. Ada pula mihrab dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit, dan panel ganda di atasnya.