Kota Malang selama ini dikenal sebagai kota wisata dengan udara sejuk, deretan pantai di Malang Selatan, serta kawasan pegunungan yang memanjakan mata.
Namun, di balik pesona alamnya, Malang menyimpan sejarah panjang yang sangat kaya, bahkan bisa dibilang sebagai salah satu kota dengan lapisan sejarah paling lengkap di Jawa Timur.
Sejak abad ke-8, wilayah Malang telah menjadi pusat peradaban melalui Kerajaan Kanjuruhan, lalu berkembang pesat pada masa Kerajaan Singhasari dan Majapahit.
Memasuki era kolonial, Malang tumbuh sebagai kota modern dengan tata ruang ala Eropa yang rapi. Hingga akhirnya, kota ini juga memainkan peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada periode 1945–1949.
Jejak sejarah dari berbagai zaman tersebut masih bisa kita temukan hingga hari ini dalam bentuk museum, candi, kawasan heritage, tempat ibadah, hingga monumen perjuangan.
Menariknya, situs-situs bersejarah di Malang tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian hidup dari aktivitas masyarakat modern.
Berikut ini adalah 7 tempat bersejarah di Malang yang menyimpan jejak kerajaan, kolonialisme, hingga perjuangan kemerdekaan – wajib dikunjungi bagi kamu yang ingin liburan sekaligus menambah wawasan.
1. Museum Singhasari – Menyusuri Jejak Kerajaan Besar di Jawa Timur
Jika berbicara tentang sejarah Malang, nama Kerajaan Singhasari (Tumapel) tidak bisa dilewatkan. Kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini pernah menjadi salah satu kekuatan besar di Nusantara sebelum kejayaan Majapahit.
Untuk mengenal Singhasari lebih dekat, Museum Singhasari adalah tempat yang tepat. Museum ini terletak di Perumahan Singhasari Residence, Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Di dalam museum, pengunjung akan menemukan sekitar 345 artefak bersejarah yang dipamerkan di area seluas kurang lebih 3.000 meter persegi. Koleksinya mencakup:
- Arca Prajna Paramita (ikon seni pahat Singhasari)
- Arca Mahakal dan Mahisha
- Arca Durga Gaya Singhasari
- Arca Ganesha
- Fragmen relief dan benda ritual Hindu-Buddha
Museum Singhasari bukan hanya tempat melihat benda kuno, tetapi juga ruang belajar tentang seni, kepercayaan, dan sistem pemerintahan Jawa Timur kuno.
2. Museum Panji – Legenda, Sejarah, dan Identitas Budaya Jawa
Berbeda dari museum kerajaan, Museum Panji menghadirkan sejarah dari sudut yang lebih naratif dan kultural.
Museum ini mengangkat kisah legendaris Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji, tokoh penting dalam sastra Jawa yang berasal dari Kerajaan Jenggala.
Museum Panji berlokasi di Jl. Raya Bangilan No. 1, Ringin Anom, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Salah satu daya tarik utamanya adalah diorama Perang Genter, konflik yang melibatkan Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Kediri.
Selain diorama, museum ini juga menampilkan:
- Wayang Panji dan wayang kulit
- Topeng Panji khas Malangan
- Artefak sejarah
- Dokumentasi visual Kota Malang tempo dulu
Museum Panji menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam prasasti dan candi, tetapi juga dalam cerita rakyat, seni pertunjukan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
3. Monumen Juang 45 – Simbol Perlawanan Rakyat Malang
Malang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama pada periode 1945–1949. Salah satu saksi bisu dari masa tersebut adalah Monumen Juang 45.
Monumen ini terletak strategis di kawasan Stasiun Kota Malang, Jalan Kertanegara. Bentuknya berupa patung rakyat yang sedang menaklukkan sosok raksasa (buta), simbol penjajah yang berhasil dikalahkan.
Makna Monumen Juang 45:
- Melambangkan semangat perlawanan rakyat Malang
- Mengingatkan generasi muda akan pengorbanan para pahlawan
- Menjadi penanda peran Malang dalam sejarah nasional
Hingga kini, monumen ini sering dikunjungi pelajar, komunitas sejarah, hingga wisatawan yang ingin mengenang perjuangan kemerdekaan dari dekat.
4. Kayutangan Heritage – Jejak Kolonial di Jantung Kota Malang
Jika ingin melihat wajah Malang pada masa kolonial, Kayutangan Heritage adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Kawasan ini juga dikenal dengan nama Kampoeng Heritage Kajoetangan.
Terletak di Jalan Jenderal Basuki Rahmat Gang 4, Kecamatan Klojen, kawasan ini dipenuhi bangunan bergaya kolonial Belanda yang dibangun antara 1870 hingga 1920.
Sekitar 22 bangunan cagar budaya masih dipertahankan dan difungsikan sebagai:
- Rumah tinggal
- Kafe dan restoran
- Galeri seni
- Toko UMKM
Berjalan di Kayutangan Heritage terasa seperti menyusuri Malang tempo dulu, lengkap dengan gang sempit, bangunan tua, dan suasana yang hangat serta fotogenik.
5. Kelenteng Eng An Kiong – Harmoni Keberagaman Sejak Abad ke-19
Malang juga dikenal sebagai kota multikultural. Salah satu bukti nyata dari keberagaman tersebut adalah Kelenteng Eng An Kiong, yang terletak di Jl. R.E. Martadinata, Kotalama, Kecamatan Kedungkandang.
Kelenteng ini didirikan pada tahun 1825 dan merupakan kelenteng Tridharma, yang digunakan untuk ibadah:
- Buddha
- Khonghucu
- Taoisme
Kelenteng Eng An Kiong telah ditetapkan sebagai cagar budaya, dan hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah serta wisata religi. Pendiri kelenteng ini adalah Letnan Kwee Sam Hway, seorang prajurit Tionghoa yang memiliki peran penting dalam sejarah lokal Malang.
6. Candi Singosari – Monumen Abadi Raja Kertanegara
Salah satu peninggalan paling penting dari Kerajaan Singhasari adalah Candi Singosari. Candi ini terletak di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, di lembah antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuno.
Para sejarawan meyakini bahwa Candi Singosari dibangun untuk memperingati wafatnya Raja Kertanegara, raja terakhir Singhasari. Bangunannya memiliki tinggi sekitar 14 meter, dengan relief dan ukiran khas Hindu-Buddha.
Di kompleks candi, pengunjung juga dapat melihat:
- Sepasang Arca Dwarapala raksasa
- Fragmen bangunan kuno
Sebagian arca lainnya kini disimpan di Museum Nasional Indonesia dan Tropenmuseum Belanda.
HTM: Rp5.000/orang
Jam Operasional: 08.00–16.00 WIB
7. Candi Jago – Keagungan yang Tersisa dari Masa Lampau
Nama Candi Jago berasal dari kata Jajaghu yang berarti keagungan, bukan karena bentuknya menyerupai ayam jago. Candi ini juga dikenal sebagai Candi Tumpang, sesuai lokasi desanya.
Sayangnya, bangunan Candi Jago kini tidak lagi utuh. Yang tersisa hanyalah bagian kaki dan sebagian badan candi. Kerusakan ini disebabkan usia, alam, dan sambaran petir di masa lalu.
Meski demikian, pengunjung masih bisa melihat:
- Relief cerita keagamaan
- Arca Kalamakara di sisi utara
- Arca Amoghapasa di sisi barat
Lokasi: Desa Tumpang, Kabupaten Malang
HTM: Gratis
Jam Operasional: 07.30–16.00 WIB
Penutup
Kota Malang bukan hanya tentang wisata alam dan kuliner, tetapi juga tentang sejarah panjang yang membentuk identitasnya hari ini. Dari candi peninggalan kerajaan, museum budaya, kawasan kolonial, hingga monumen perjuangan kemerdekaan, semuanya menjadi saksi bisu perjalanan Malang lintas zaman.
Bagi kamu yang ingin liburan dengan makna lebih, menjelajahi tempat-tempat bersejarah di Malang adalah pilihan tepat—bukan hanya menyegarkan pikiran, tetapi juga memperkaya wawasan dan rasa bangga terhadap sejarah bangsa.







